My Books

My Books
Araska Publisher, 2014. Ellunar, 2014, 2015, 2015.
I LOVE KAMPUS FIKSI - #KAMPUSFIKSI12
Takut

Takut

Aku merasa depresi ketika sendirian
Aku takut dengan segala hal.
Aku sangat takut disakiti. Sampai pikiran ini begitu menyaikitku.
Tak jarang aku bisa membenci orang yg kucintai.
Tak jarang aku tak mempercayainya.
Aku takut diri ini tak dicintai dengan sepenuhnya.
Aku takut hanya aku yant begitu besar mencintainya.
Aku takut diabaikan, takut ditinggalkan, aku takut
menghadapi hal yang tak kubayangkan.
Aku tak tahu bagaimana menghadapi diri ini.
Rasanya tidak ada orang yang bisa mengerti diriku.

Aku Rindu Kamu

Aku Rindu Kamu

Biasanya aku yang selalu bilang rindu.
Merecoki layar ponselmu dengan celotehan
tidak penting mungkin "bagimu".
Tapi kamu harus tahu semakin banyak mulut ini
membuatmu berisik, sebesar itulah perasaanku.

Belum habis rinduku meskipun sepanjang hari kutemui. Duduk tidak jauh di samping, kadang tertawa, kadang jengkel. Ketahuilah, meskipun berbulan-bulan telah usai, aku selalu melihat wajahmu diam-diam.

Kamu masih belum paham perasaan ini bermetamorfosis menjadi kian dewasa.
Ia menjadi tidak berisik karena perlahan kamu mengabaikannya. Mungkin kamu mulai jemu dan menyadari aku tidak secantik yang dikira, atau kekurangan-kekuranganku yang membuatmu sedikit bergerak mundur.

Memilihmu sebagai pasangan hidupku, kamu harus siap kurindukan setiap hari. Tapi masih saja kamu tidak paham tentangku. 
Jalani dan Lupakan

Jalani dan Lupakan

Semakin malam seluruh rasa sakitku bermunculan, membuat hati dan pikiran tidak merasa damai. Sering kali tangis muncul melintasi pipi. Mengingat semua yang sudah dihadapi berlalu, kemarin dan hari ini.

Terkadang aku takut saat malam kian larut. Perasaan ini melebur bersama sepi. Apa hanya aku yang merasa merindukannya sendirian?

Berbeda dengan pagi. Perasaanku berubah seperti tidak terjadi apa-apa, tetap bekerja, tertawa, tersenyum dan banyak bicara.

Aku tidak mengerti kenapa aku begini? Semalaman bisa menangis, sepanjang hari bisa tertawa.

Di akhir kesimpulan, aku sadar mengapa aku lebih memilih bertemu banyak orang, melebur dengan keramaian, karena berteman dengan keheningan hanya menggali ingatan tentang luka.

Jatuh Cinta tak selalu membuat tertawa

Jatuh Cinta tak selalu membuat tertawa

Entah aku punya pengalaman bagaimana,
Bagiku jatuh cinta malah membuatku takut segala hal. Takut ditinggalkan, diabaikan, dilupakan, dan takut hanya aku yang jatuh sendirian?

Entah bagaimana cinta itu datang dengan manis, namun berjalan dengan kadar yang semakin menipis.

Entah bagaimana hati ini terasa semakin sakit dan tidak tenang saat cinta mulai menggerogoti kedamaian ini.

Dulu sendiri pun tak masalah, tak dipedulikan pun apa, tak dirindukan siapa pun juga tak membuat hidupku kosong, karena dulu hatiku tak terisi siapa pun. Hatiku hanya tentang diriku.

Tapi cinta kadang merusak semua itu. Entah cinta seperti apa yang membuatku tidak pernah terluka. Karena pada kesimpulan terakhir Cinta selalu berjalan dengan luka.

Kau hanya menangis sendirian saat cintanya padamu seperti debu yang semakin terempas angin.

Aku takut menghabiskan sepanjang hidupku dengan seseorang yang tidak setia hatinya.

Aku takut, ya Allah. 
Manusia itu adalah aku

Manusia itu adalah aku

Matahari pun tidak pernah marah meski sedikit sekali orang peduli padanya. 
Tapi manusia dikaruniai perasaan dan akal. Dia mampu sakit hati, bahagia, tertawa dan menangis. Terkadang dia lebih lemah dari makhluk atau benda apa pun di muka bumi, terkadang dia lebih kuat dari apa pun. 

Kekuatan manusia ada pada hati dan pikirannya. Bagaimana ia bisa merasa sempit jika dirinya merasa terlalu kecil dan lemah. 

Manusia itu adalah aku. 

Apa Impianmu?


Apa Impianmu?
Berapa lama hiatus menulis? Keinginan menulis ini terkumpul lagi setelah malam ahad ini keliling kota untuk menyegarkan pikiran. Apa sebenarnya yang kumau? Melihat pendar warna-warni air mancur yang kupikirkan semuanya hanyalah fatamorgana.


Hal seperti apa yang bisa kulakukan dengan ikhlas tanpa terbebani “Berapa dunia membayarku?” Sekali lagi aku merenung. Aku suka menggambar, namun bukan untuk individu tertentu atau hanya untuk diriku. Entah kenapa aku selalu senang hati menyumbangkan karya dan tenagaku untuk kerelawanan. Sebanyak apa pun waktu kuhabiskan dan keringat yang keluar untuk kemanusiaan, aku tidak pernah merasa sia-sia meskipun tidak pernah memperoleh uang secuil pun.

Kadang aku menangis, karena aku tidak punya banyak waktu untuk ikut semua kegiatan kerelawanan. Aku harus tetap bekerja, aku punya adik dan keluarga, mereka juga sama berharganya seperti semua orang yang sedang membutuhkan bantuan. Aku ingin egois dan lari dari rutinitas membosankan ini. Aku ingin fokus menjadi relawan. Namun realita tidak pernah libur, ia selalu bersisian bersamaku.

Perhatikanlah orang lain, namun jangan pernah mengabaikan kepentinganmu juga, fy.

Jerit itu selalu ada. Namun aku tidak pernah bahagia jika hanya memikirkan impianku. Karena salah satu impianku adalah membahagiakan semua orang. Aku tidak bisa menjadi orang hebat seperti Iman Usman, Sandiaga Uno, Belva yang bisa membuka lapangan pekerjaan, tapi aku dikaruniai hati dan rasa empati yang tinggi. Aku tidak bisa memberi materi, aku tidak bisa memberi pekerjaan, namun aku masih bisa memberi senyuman bukan? Aku masih bisa menuangkan air, memberi pelukan. Siapa tahu itu juga menjadi dorongan untuk mereka? Mereka yang jauh tidak beruntung dariku.

Aku selalu bilang aku lelah dengan segala standar dunia. Aku membaca buku bukan karena ingin disebut rajin atau pintar oleh orang lain, aku menulis bukan ingin disebut penulis, aku belajar design bukan untuk menjadi designer terkenal, aku ingin menjadi guru bukan karena ingin disebut guru. Aku hanya ingin berbagi sedikit apa yang kuperoleh. Aku ingin memberi terbaik untuk siapa pun, biarpun semua yang kuperoleh adalah copy-paste. Aku ingin bahagia dengan caraku.

Aku ingin bahagia dengan caraku. Dari sana orang-orang yang benar dekat denganku akan terseleksi sendirinya. Dari segi apa menghargaiku, dari segi apa menghadapiku, dari segi apa menilaiku.

Dengan jalan yang kupilih, aku harus memiliki hati yang sangat besar. Kuat menampung segala jenis sudut pandang. 

Prioritasku sudah bukan materi lagi, hidup ini pendek. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengejar semua itu, hidup ini pendek, aku tidak punya banyak waktu untuk mempercantik diri, hidup ini pendek, aku tidak punya banyak waktu untuk mengejar ambisiku. Hidup ini pendek, dan akhirat itu panjang, siapa yang akan menjadi penolongku kelak? Semoga semua orang yang pernah bersinggungan denganku, yang pernah kupeluk, yang pernah kutuangkan air untuknya, yang pernah kuberi cerita, dan siapa pun itu bisa bertemu lagi di akhirat, bisa menjadi salah satu penyelamatku.

Ya Allah, berilah aku waktu lebih banyak untuk berjuang di jalanMu. 

Jurnal 24-25 November 2018

Jurnal 24-25 November 2018

Jurnal Dua Puluh Empat sampai Dua Puluh Lima November 2018

Bismillahirrahmanirrahim,
Kereta Serayu, Jumat, 23 November 2018. Pukul 20:40. Terlambat 10 menit tiba di stasiun.
Aku berangkat dengan kondisi kesehatan yang buruk. Insya Allah semoga Allah mengurangi dosaku dengan niatku pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan Kak Wulan Isfah Jamilah.
Saat itu aku sedang flu, demam, batuk, dan keringat dingin. Pukul 4:30 tiba di Statiun Bekasi. Aku tiba di rumah Oom Opik sekitar pukul 5:30 pakai Gojek di Perum Bumi Anggrek Permai Blok T/63.

Alhamdulillah, udah rezekinya anak solehah (Aamiin) baru datang diajak ke acaranya perusahaan Oom di Waterbom Jakarta Pantai Indah Kapuk. Alhamdulillah aku nggak telat datang ke rumah Oom, ya karena Oom nggak tahu aku bakal ke rumahnya.

Setali tiga uang rasanya aku dapat hal berharga saat pergi ke Bekasi/Jakarta. Aku bisa akrab sama Hafsa, sepupuku ini usianya baru 7 tahun, tapi dia susah akrab denganku. Udah bertahun-tahun aku coba dekat sama dia tapi susah. Tapi hari itu, dia mulai suka denganku. Kami bermain air bersama meskipun usiaku sudah 24 tahun. Tapi aku tidak peduli. Aku temani dia naik perosotan anak-anak. Alhadmulillah.

Aku cukup tahu Bulek Dewi nggak sekaku yang kupikirankan selama ini. Dia cukup banyak cerita soal kerja kerasnya di Bekasi. Ah, dan sepanjang jalan ke waterbom aku juga diomelin Bi Yuli. Masya Allah, banyak banget masukannya terutama soal 'manage keuangan'. Kamu tahu? Gara-gara dia pulang-pulang, aku dengerin sarannya. Aku selalu masak pagi hari buat bekal makan siang di tempat kerja.

***
Jadwal walimahan Kak Wulan pukul 19.00, sedangkan acara di PIK kelar pukul 16.00, dari PIK aku berpisah dengan keluarga Oom. Aku naik gojek, dan harus bayar sekitar 70rb! Jauh banget! Aku deg-degan pas lewat tanjung priok, mobilnya gede-gede, mana si abang gojek serempet-serempet. Kan aku takut kelindes. :((

Pukul 18;00 Aku udah sampai di Gelanggang Remaja Kec. Koja. Demamku makin tinggi, udah lelah banget sebenarnya. Aku diem di masjid sambil charge Hp dan menunngu Kak Jihan atau Kak Dinda tiba.

Acara walimahan berlangsung ramai, aku nggak sempat lama-lama, selain kondisiku udah mulai drop, udah nyaris pukul 9 malam juga itu bikin cemas karena harus balik ke Bekasi. Mobill Grab susah didapat karena hujan deras mulai melanda. Alhamdulillah, aku pulang bareng Kak Dinda dan suami ke daerah Jaktim. Dia janji bakal anterin aku ke Manggrai.

Sekitar pukul 10 malam aku baru sampai di Stasiun Manggarai, dan kebagian jadwal KRL yang paling terakhir pukul 11 malam! Aku khawatir banget takut dimarahin Bibi dan dari stasiun juga cukup jauh ke Tambun.

Pukul  23.40an aku sampai rumah Oom. Pagar dan pintu tidak dikunci. Masuk kamar Farah, dan sepupuku lagi tidur pulas. Besoknya Bi Yuli ngomel kenapa pulangnya telat dan lain sebagainya.

***
Ahad, 25 November 2018
Sekitar pukul 13.00 aku berangkat dari KRL Bekasi menuju stasiun UI. Tapi di tengah jalan Fadhil kirim WA dan minta ketemuan di Stasiun Manggarai buat pergi bareng ke Gramedia Matraman.