My Books

My Books
Araska Publisher, 2014. Ellunar, 2014, 2015, 2015.
I LOVE KAMPUS FIKSI - #KAMPUSFIKSI12

Ceriwis-Kamar Maryam

Kamar Maryam


Maryam teman gue sejak SD tahun 2000-2006. Jadi rumahnya, termasuk kamarnya udah jadi ruang cerita gue dengan dia.
            Sekarang 2018. Kamarnya nggak sesederhana dulu. 24 tahun, udah jadi cewek. Dulu masih ingusan. Pasti kamarnya udah jadi cewek juga. Hehe
`seprainya merah polkadot putih, ada hiasan tempelan gambar pot bunga di dinding, grey warna dindingnya, selempang wisuda digantung di sudut. Maryam juga sering terima hadiah-hadiah dari kenalannya. Maklum dia cantik jadi banyak yang suka. Beda sama gue. :’D
            Hadiah-hadiah itu kebanyakan boneka dan bunga kertas. Dia pajang di rak dinding. Kalau malam kamarnya itu semriwing ada lampu tumblr kerla-kerlip. Sengaja ketika mau tidur lampu kamar dipadamin, biar selasa liat bintang dari kedipan lampu tumblr. Gue nulisnya benar nggak sih? Tumblr atau tumblir?
            Nggak boleh ada semut di kamarnya. Dia nggak suka ada makanan manis tumpah, remah-remah juga dilarang. Biar nggak ada semut bertamu. Kalau jodoh boleh. Hahah
            Dia suka hal-hal simpel tapi berwarna. Kamarnya udah nunjukin itu kok. Orangnya awet, nggak kayak gue—mudah lupa.

            Sekian. Bingung mau nulis apa lagi. Mau dua halaman, tapi kata-kata mentok sampai sini saja.

Review Film Dilan 1990 (Dilanku yang Tertinggal di Hati)

Review Film Dilan 1990
(Dilanku yang Tertinggal di Hati)


Dilan, masanya sudah berlalu bagiku. Tapi namamu tertancap di hati. Beuh. :’D
Dilan 1990 jelas setting tahun generasi 90-an ini menceritakan romansa masa SMA di kota Bandung. Kalau hari ini kan mau ngegebet orang serba gampang, bisa facebook-an tapi udah kuno sih, orang-orang pindah ke IG—buat unjuk juara Ketampanan yang paling banyak filternya, bisa via WA juga, gampanglah tinggal chit-chat gretong, nelepon juga cetek. Mau di ngegombal di atas genteng sekalipun bisa!

            Tapi Dilan? Tahun segitu tuh dia mesti punya telepon rumah, dan hanya orang-orang mampu saja yang bisa pasang pesawat telepon pada masanya itu. Dilan sih biasanya pakai telepon umum—Cuma pakai koin.

            Dilan diperankan oleh Iqbal mantan member Coboy Junior. Jujur, awalnya gue gak terima masa Dilan bocah ingusan sih? (gue lupa umur gue bukan SMA lagi makannya protes). Tapi langsung jilat ludah sendiri deh, pas Iqbal tiba-tiba disulap jadi Dilan. Tingkat kegantengannnya naik 1000%. Lebay gak sih gue?
            Entah ini aura Dilan atau aura Iqbal, yang penting bukan Aura Kasih. :’D Gila-gila gue baper parah. Seisi studio cengcengsan tahu nggak sih. Jerit-jerti kek mereka yang jadi milea. Padahal Milea biasa aja. Sumpah, ya, gombalan, tatapan, kelakuan Dilan nojos banget ke hati.

            Bang Pidi sukses besar telah men-Dilan-kan Iqbal. Manis banget senyumnya, nggak kuat.
            Milea juga kerenlah. Tapi fokus gue Cuma ke Dilan sih jadi nggak terlalu meng-wow-kan Milea.
            Di balik keajaiban pemeran karakter-karakter film Dilan 1990. Settingan 90-annya masih kurang. Efek cinematography-nya juga masih keliatan kekinian. Tapi overall gue suka.

            Gue kangen gombalan Dilan, senyum Dilan, tatapan Dilan, marahnya Dilan, cemburunya Dilan, bisikan Dilan. Aaaakk pengin nonton lagi.

            Dilan... aku rindu. Tapi berat. Kenapa nggak kamu aja yang rindu aku? Wkwkkwkwk


Ceriwis-Nge-Wifi Corner

Nge-Wifi Corner
Telkom Tasikmalaya


Malam minggu. Kalau enggak diapelin pasti ngapelin. Gue? Ngapelin wifi corner aja bareng sobat—Maryam. Dulu gue sempet norak juga pas tahu ada wifi corner. Eeee gila buseet, Tasik udah kekinian. Ada tempat nongkrong anak muda. Sebenarnya enggak tepat juga sih disebut tempat nongki.
wifi corner
Namanya wifi corner ya pastinya multifaedah. Ada yang datang buat ngerjain tugas kelompok, ada yang download film, ada yang iseng, ada yang bosen hidup, ada-ada aja. Nah begitulah.
Sekarang pukul 20:22 WIB. Duduk di pojokan berhadapan sama abang? Akang? Emas? Pake kacamata, switer? Eh  switer atau sweater atau sweeter sih? Bodo ah. Mukanya tua. Hidungnya gede dan lurus.5 menit yang lalu dia bilang gini, “Boleh duduk di sini?” nunjuk kursi depan gue.
“Mangga,” gue bilang gitu.
            Terus di samping gue ada Maryam. Udah hampir sejam LK21 mainin hatinya. Petunjuknya sih DOWNLOAD tapi yang keluar situs setan. Gue bilang, “Cobain di situs lain.”
            Sekarang lagi ngetik nih judulnya nge-wifi corner. Ya, emang lagi di sini jalan merdeka lokasi kantor Telkom Tasikmalaya, depannya gedung pendopo, sampingnya gedung juang. 98 % penikmat wifi corner adalah cowok, 2%-nya gue sama Maryam.
            Nggak malu?
            Ya nggak lah! Kan gue pake baju, kalau telanjang sih iya gue malu.
            Haus. Mau manggil si Aa konter makanan tapi malu. Gue mau minum. Udah dulu, ya.

Tasikmalaya, 27 Januari 2018


Fenomena Angkot Vs Gojek

Fenomena Angkot Vs Gojek

tribunjabar.com

cosmosgirl.com
Saat melihat helm dan jaket hijau tiba-tiba berkeliaran di ruas jalan kota membuat perasaan saya senang. Berada di posisi sebagai konsumen tentu saya menyambut baik adanya tambahan fasilitas kendaraan umum—mengingat selama ini angkutan umum dikeluhkan dengan rute yang cukup memutar, menghabiskan waktu, terkadang susah untuk didapatkan di tempat-tempat tertentu ditambah dengan kapasitas waktu yang terbatas.
            Gojek muncul sebagai solusi keluhan tersebut. Ada kalimat klise yang sering terumbar gugur satu tumbuh ber-jemaah. Dengan kata lain ada satu pihak yang merasa dirugikan akibat kehadiran gojek di tengah hiruk-pikuk persaingan tukang angkot. Kali ini keluhan muncul dari supir angkot—dampaknya penumpang lebih memilih naik gojek ketimbang angkutan—termasuk saya. Hehehe
            Lalu bagaimana solusinya?
            Membahas cerita tadi siang bersama Bos ditempat kerja soal Demo Supir Angkot didramatisir dengan adanya mogok ngangkot membuat hati saya sedikit tersentil. Serba salah juga sih ya, di sisi lain saya sebagai konsumen merasa keberatan jika gojek harus dimusnahkan dari daratan Kota Tasikmalaya.
            Membaca sebuah artikel berita dari Liputan6.com “Demonstran Segel Kantor Ojek Online di Tasikmalaya”. Gedung DPRD Kota Tasikmalaya, diserbu ribuan angkutan, bahkan tukang becak dan ojek lokal pun turut serta. Bukan main! Mari kita tepuk tangan atas sistem demokrasi hari ini. Tak tanggung-tanggung kantor Gojek pun ikut diserbu dan diminta untuk segera berhenti.
            Hem... jadi panjang masalahnya. Masalahnya begini... Gojek tidak fleksibel jika beroperasi di kota kecil sejenis Tasikmalaya. Kecil... ya hemp. Begitulah.
            Dan solusi pemerintah apa? Menghidupkan satu sisi dan mematikan sisi lain. Selalu seperti itu solusinya. Saya tidak tahu ini salah siapa. Apa alasan konsumen berpindah haluan dari angkut ke Gojek? Dari sini sudah terlihat sistem usang sudah tidak bisa terus dipakai jika ingin dilirik penumpang.
            Gojek memberikan terobosan baru di mana orang tidak perlu merasa cemas terlambat saat akan masuk kerja, sekolah atau pulang dari urusan. Seandainya negeri ini memiliki jiwa intropeksi yang tinggi, maksud saya sadar diri. Apa kesalahan kita selama ini?Apa kesalahan sistem transportasi umum negara ini sampai saling senggol-bacok?
            Bagi saya mematikan satu sisi tetaplah tidak adil.

            Entah kenapa kredibilitas Wali Kota Tasikmalaya hari ini rasanya mulai saya pertanyakan—simak di artikel selanjutnya. 

Resensi Kumcer Pemilin Kematian-Dwi Ratih

Resensi Pemilin Kematian
pemilin kematian
sumber: pelangisastramalang.org

Judul               : Pemilin Kematian (Cerpen)
Penulis             : Dwi Ratih Ramadhany
Genre              : Sastra
Penerbit           : Pelangi Sastra
Tahun              : 2017, Ceatakan Pertama
ISBN               : 978-602-74629-5-3
Cuplikan
Ia menukarnya dengan Pak RT. Ia sangat terobsesi dengan kematian suaminya. Mungkin karena iming-iming. [Hal. 7]
***
Pemilin Kematian adalah kumpulan cerpen yang sudah pernah diterbitkan  di media massa terkenal seperti kompas, Radar Malang dan media massa setempat, juga beberapa cerpen merupakan jawara dari kompetisi menulis. Judul  utama dari kumcer ini diambil dari salah satu cerpen yang sudah tembus KOMPAS pada tanggal 8 Desember 2018—tentunya satu judul tersebut mewakili isi semua cerpen.
            Sejujurnya saya tidak berhak untuk mengomentari mahakarya milik Ratih karena jelas saya bukan penggila sastra—tapi karena seorang kawan menghadiahi buku ini. Ini adalah buku sastra kedua yang tuntas kubaca.
            Maka tak layak rasanya saya menyebut kumcer ini membosakan—karena ini masalah selera. Tapi ada beberapa cerpen yang cukup membuat saya terpikat seperti; Janda Sungai Gayam, Malam Merah Ibu.
            Ada satu hal yang kutangkap, sebagian besar cerpen Ratih memiliki pokok cerita atau pola cerita yang hampir sama. Saya bingung menjelaskannya---semoga saja pendapat saya keliru dan mungkin pemahaman saya terlalu dangkal sehingga belum mampu mencerna maksud dari pesan-pesan moral yang tersirat di sana.


Mencari Filosofi Teratai

[D-2]
Mencari Filosofi Teratai
teratai
sumber: mercubuanaraya.com

Sehabis mengantar ibu, sebelum sampai rumah—mataku tertuju pada kolam depan rumah tetangga. Kolamnya keruh, gelap, tentu gelap karena daerah sana kurang penerangan juga diriuhi pepohonan dan langit tak berbintang. Ada yang mekar di atas air, tapi warnanya tak menyembul ke permukaan.
           Keningku berkerut—bunga itu tampak berbeda dan aku tahu namanya teratai. Dia tak perlu cahaya untuk melebarkan kelopak, tapi dia malu saat cahaya menyapanya.
            Ah, akhirnya aku menemukan filosofinya. Padahal sepanjang waktu—belum kunjung didapat. Aku tidak mau melanjutkan cerita ini menjadi seperti diary. Karena aku hanya ingin bercerita tentang teratai yang kulihat di malam hari.
            Barangkali—menjadi unik adalah hal yang sangat menarik. Menjadi berbeda adalah hal yang langka. Dan menjadi diri sendiri adalah hal yang tak bisa ditemukan dari orang lain. Barangkali ini filosofi yang kubutuhkan.
            Kamu mengerti maksudku apa itu teratai dibanding bunga lainnya?
Tasikmalaya, 21 Juli 2017

Alfy Maghfira

Cerpen-Rye Ditetes Airmata



Rye Ditetes Airmata
(Alfy Maghfira)
 
been-seen.com
Di belahan bumi utara, tahun 1891, aku masih betah mendiami tanah-tanah yang sudah berminggu-minggu ini sedikit sekali diciumi heksagonal-heksagonal dari langit, padahal sekarang musim dingin, tapi kekeringan terus merebut semua musim. Musim panas yang membakar kulit, musim gugur yang menyesakkan dada dan musim dingin yang penuh dengan bencana.
            Revolusi kekaisaran, pemberontakan, kekejaman rezim Tsar dan musim yang teramat kejam telah memonopoli kehidupan rakyat Rusia belahan barat. Bumi yang merindukan tetesan langit ini, menjadi lebih sering ditetesi derai airmata dan darah.
 Tubuhku yang kuning, jika siang malah semakin kering-kerontang. Meskipun kaki ini semakin berakar untuk terus bertahan hidup, tapi aku bukanlah objek yang senang untuk dilihat.
            Mereka menyebutku bencana, mereka menyebutku benalu dan ancaman besar. Ya, ini adalah musim dingin yang panjang. Hanya ada aku dan Rye, bukan gandum, atau buah-buahan lainnya.
            Terkadang aku bisa bersyukur jika mereka sekali-kali menyiramiku dengan ludah yang nyaris kering dari lidah karena mereka sangat membenciku. Tak terhitung berapa kali tangan kasar berusaha mencabik-cabikku dari halaman rumah mereka, tapi langit, angin dan tanah masih memberikanku nyawa untuk hidup di depan para pembenci.
            Pada suatu hari di pagi yang disesaki angin dari arah selatan, salah satu pembenciku berteriak-teriak seperti domba yang hendak dikuliti hidup-hidup. Ia keluar rumah dengan kedua bola mata hampir padam, perutnya yang dulu subur kini kerempeng. Ia berjalan sempoyongan sembari menekuk perutnya dengan sebuah batu besar seukuran kepalanya sendiri.
            Dia berteriak, “Rye! Rye!” lalu berurai airmata. Suaranya pun nyaris seperti siulan burung yang sekarat. Sebut saja dia Sheva, seorang pemuda Rusia dari belahan barat yang menumpu hidupnya sebagai petani gandum.
            “Belum ada yang membuat Rye!” sahut Abra yang sedang mengobrak-abrik jerami di halaman rumah Sheva.
Tumpukan jerami itu biasanya disiapkan untuk menghangatkan ternak-ternak mereka dari musim dingin. Tapi Abra malah mencincang tumpukan itu lalu menggiringnya ke dapur untuk diberikan pada ibunya.
Abra menatap wajah ibunya yang semakin tirus dan mata penuh dengan kilauan. Entah itu terharu atau tidak, tapi aku mengamatinya dari luar.
“Aku harap rumput-rumput kering segera berlalu. Aku harap langit pun mau berbaik hati dengan kita,” gumam Sheva lemas, sembari menatap sendu langit yang begitu kejam baginya.
“Apa kau akan terus memusuhi langit? Padahal kita sering menuai gandum milik kita,” timpal Abra, suaranya masih terdengar cukup kuat untuk 2 hari ke depan. Ia menghampiri Sheva yang sedang duduk di atas tanah dingin menusuk pantatnya.
Pria berambut pirang yang ditutupi oleh topinya itu lalu mulai mencabutiku yang sedang berdiri di sampingnya. Kemudian ia melemparku ke sembarang arah sambil berkata, “jika mereka tidak ada, musim dingin artinya sudah berlalu. Dan kita tidak harus makan Rye terus.”
Sebenarnya Abra menepekuri ucapan Sheva, aku melihat dari sorot matanya yang penuh pertentangan dengan adiknya, “Kau lupa? Musim yang kejam ini bukan Tuhan yang menciptakan, bukan pula alam. Seandainya gandum dan seluruh ternak kita tidak dirampas oleh setan-setan itu, mungkin kita sekarang masih memiliki persediaan makanan di musim kering yang panjang ini. Tapi... cih!”
“Kau benar, setan-setan itu terlalu rakus memenuhi perut mereka,” sahut Sheva sembari menyimpan perlahan batu yang semula menekuk perutnya ke atas tanah.
Suara laju kereta kuda pun terdengar riuh dari kejauhan. Sheva Dan Abra terlonjak panik. Mereka saling berpandangan dan menebak pikiran satu sama lain.
“Apa kau sudah menyembunyikannya?” tanya Sheva.
“Aku memberikannya pada Ibu dengan jerami tadi.”
Aura malapetaka dirasa semakin kuat. Lantas Abra menatap rumah yang di atasnya terdapat cerobong asap. Pertanda sarapan akan segera terhidang. Aroma asap yang mengelun di udara bagi Abra sesedap roti pastry di tahun lalu. Aku berharap aroma itu bisa tercium oleh para penarik kereta kuda itu dan mampu merasakan betapa lezatnya masakan di musim dingin yang panjang ini.
Makanan di musim dingin yang panjang ini selalu membuat Sheva dan Abra berbicara, “Kuharap besok kita masih tetap hidup.”
Aku mendengar suara kaki kuda itu mulai semakin dekat. Orang-orang  yang menungganginya bertopi fedora, badannya dilapisi jas hitam yang terjuntai hingga lutut, serta pangkal bibir mereka yang ditumbuhi kumis pun tampak tidak menawan karena kebrutalan mereka melebihi lintah penghisap darah.
Sheva dan Abra masih dikatakan beruntung. Kemarin aku melihat orang-orang berkuda itu memporak-porandakan sebuah keluarga karena ketahuan menyembunyikan sekepal gandum yang seharusnya disita oleh pemerintah untuk terus diekspor ke negara lain. Miris.         
Orang-orang berkuda itu adalah suruhan pemerintah Rusia yang sedang berkeliling mencurigai setiap rumah yang dilaporkan mencuri gandum. Sheva dan Abra juga tak luput dari kecurigaan itu. Aku mendengar erangan Sheva saat orang-orang kejam itu membidikkan pistol ke kepalanya sebagai taruhan jika sampai ditemukan gandum dalam rumah keluarga Sheva.
“Geledah rumah ini!” teriak sang komandan yang masih garang membidikkan pistol.
Ibu dari kedua pria tersebut terdengar memekik histeris. Aku membayangkan wanita paruh baya yang tadinya sedang mengadon Rye di dapur harus diseret paksa oleh para lintah itu. Semua orang yang berada di desa ini hanya menatap nanar tindak kekerasan itu.
Tak ada yang mampu bersuara untuk protes sedikit pun, mendadak desa ini seperti dihuni oleh benda-benda mati dan benda-benda tak bersuara sepertiku. Hanya menjadi saksi bisu sejarah. Mungkin hanya angin saja yang mampu menyebarkan peristiwa ini hingga terendus ke masa depan.
“Apa yang kalian masak?!” tanya pria garang yang sedang menjambak Ibu Sheva.
Ibu Sheva tak mampu berbicara, suaranya tercekat oleh ketakutan yang tergolek di hati. Tapi Sheva yang berada di ujung kematian lantas menimpalinya dengan sisa-sisa suara yang nyaris habis, “Ry-Rye... kami hanya makan Rye.”
“Kumohon lepaskan adikku. Kami sama sekali tidak menyembunyikan gandum atau ternak di sini. Tidak ada yang tersisa!” Abra berbicara gelisah.
Para pesuruh kaisar itu lantas mengerutkan keningnya tentang makanan yang disebut-sebut.
“Apa Rye itu?”
“Roti... Roti Rye.” Aku melihat pijar bola mata Abra penuh kebencian, penderitaan dan dendam saat menyebut makanan yang sudah menemani mereka selama berhari-hari.
Hanya saja keberuntungan selalu menyertai mereka setelah memakan itu. Berbeda dengan tetangga mereka. Wajahnya lekas membiru dan mulutnya berbusa memuntahkan seluruh penderitaan yang ditahan perut mereka.
Ibu Sheva segera berlari ke dapur. Aku mengamati dengan setia bagaimana langkah kakinya begitu kuat seolah ada sesuatu yang membuatnya semangat untuk memulai pertarungan hidup. Ia kembali lagi keluar dengan senampan roti Rye. Bentuknya sekepal tangan warna kuning kehitaman.
Salah satu dari komplotan lintah penghisap itu terpaksa harus mencicipi roti Rye yang bagiku dipandang saja sudah sangat memuakkan. Satu gigitan, memastikan tidak ada gandum dan tidak ada kebohongan dari keluarga Sheva.
Setiap hari aku melihat bahan-bahan roti Rye digiring ke dapur, Sheva yang mencabutiku, mencabuti semak-semak, lalu mengeruk pasir; sedangkan Abra menyediakan jerami dan batang pohon yang sudah dicincang; dan ibu mereka yang mencampurkannya dengan air dan sisa-sisa gandum yang dimiliki.
Sebenarnya aku heran melihat ibu Sheva tiba-tiba saja tersenyum tipis penuh kemenangan setelah melihat roti Rye yang dibuatnya ditelan oleh  mafia itu.
“Aku tidak bisa merasakan gandum apa pun. Arghh... makanan apa ini?!! Rasanya perut dan tenggorokanku terbakar, Tuan!!” pekiknya sembari mencengkeram perutnya.
“Bunuh mereka!!!” teriak sang komandan yang sedari tadi menodong pistol ke kepala Sheva.
Menjadi rumput pun, aku masih bisa merasakan rasanya nyawa mereka segera terangkat setelah aba-aba mengerikan itu. Ibu Sheva hanya tertawa penuh kemenangan. Sepasang matanya nyalang bak seekor babi hutan yang siap membalas anjing-anjing kaisar itu.
“Bunuh saja kami! Kami tidak takut dengan kaisar bodoh kalian! Untuk apa kami hidup sementara keadilan terus kalian hisap?! Kami kaya tapi kalian merampas segalanya!” wanita itu berteriak kembali, memancing senapan segera melesakkan pelurunya.
Dor!!!
Darah segar terpancar kuat pada tubuhku saat peluru melesat ke dalam tempurung anak wanita itu. Sheva! Tubuhku yang tak bertulang hanya disangga batang kecil dan lenganku yang berupa helaian daun tipis hanya mampu menumpu tubuh Sheva hingga terkulai ke atas tanah.
“Sheva!!!” teriak Abra dan ibunya. Airmata mereka mulai menjala ke seluruh ruang pipi. Termasuk aku yang hanya bisa melambai lemah, menari dalam kesedihan bersama angin di pagi yang kering ini.
Satu roh berhasil tertanggal dari tubuhnya. Ibu Sheva terus membelai kepala putranya yang berbau amis bersimbah darah. Wanita itu tersenyum getir dan berbisik seperti ini, “Kau selalu mengeluh saat memakan roti Rye itu. Kau bilang pencernaanmu sakit, kan? Kau bilang sudah tidak tahan, kan? Maafkan Ibu, Nak. Lebih baik kau mati saja daripada kau harus menderita memakan roti kelaparan itu. Roti Rye yang sering kubuat.”
Rusia 1891 memiliki dua spektrum yang berbeda, kemajuan industri besar-besaran dan di spektrum lain terjadinya wabah kelaparan. Dan aku adalah saksi bisu hari ini. Roti Rye yang penuh kenangan dan airmata. []