Mari ke sini!
Saat siang bersalaman dengan senja, aku merenung tentang kehidupanku.
Mengapa rasanya asin, manis, pahit, asam bahkan tawar? Mengapa Tuhan menciptakan pelangi rasa?
Lalu dadaku sedikit sesak karena banyak bertanya.
Burung-burung memancingku mendongak, menyadari langit bumi itu biru, mengapa biru? Awan itu putih, mengapa putih? Dan senja itu jingga, mengapa jingga?
Bolehkah aku menawar?
Dan mengapa ilalang bergerak ditiup angin? Mengapa ia tampak tak berguna?
Sekarang aku terdiam setelah pertanyaanku berhamburan. Kehidupan berjalan seperti itu adanya. Tak ada tawar-menawar. Jalani saja.
#sajak hari ini by Alfy
Ribuan kubik hujan yang berjatuhan tak sebanding dengan derasnya sebuah kata yang mulai menggenang separuh isi kepalaku
Genangannya meluap dari kelopak mata, terjatuh bersama rintik. Sebuah kata yang terbentuk dari percikan hujan. Suaranya adalah suaramu, rintiknya adalah kisahmu, dan genangannya adalah duniamu.
Sebuah kata yang tak sanggup kugumam meski suara hujan menutupi. Sebuah kata yang masih terlalu nyaring terdengar meski terpenjara dalam hati
Ada kalanya malam terasa abadi, tak kunjung kutemui pagi. Indah bulan yang ilusi, kedip bintang yang terlalu jauh, angin yang sesak, pertanyaan yang hanya dijawab sepi, dan terjawab bancet. Itulah malam
Kehidupan adalah malam hari yang demikian. Matahari kan terasa cepat muncul bagi mereka yang tertidur nyenyak. Simpan dulu semua pertanyaan dan tidurlah.
Tapi nyatanya insomnia terus menghantui, menyiksa pikiran dan fisik. Menunggu matahari yang tak kian muncul. Menunggu embun pertama di atas daun.
Berapa
juta kubik air yang turun, berapa banyak doa yang meluncur. Sore pada setiap
sore selalu mampir ke POM Bensin RE Martadinata Tasikmalaya. Senyum si penjaga
toilet terhalang oleh gerimis dari kejauhan, Sore masih bisa melihatnya.
Sekitar 10 menit Sore keluar.
Harusnya 2 ribu, ia punya sepuluh ribu. Penjaga Toilet mengambil kembalian dari
dalam kotak. Gerimis semakin deras. Sore berlari kecil ke arah masjid di
samping toilet. Di sana ada kesempatan; solat dan menulis.
Di teras masjid ada sekitar 4 orang
yang tertahan oleh hujan. Motor dibiarkan dicium hujan begitu saja. Di sudut
kanan seorang bapak berusia 40-an larut oleh androidnya. Tak lama muncul anak
kecil berambut keriwil bersama ibunya yang dijemput sang ayah dengan payung
merah menuju avanza. Di tepi teras ada sepasang mahasiswa yang ikut membuka
laptop mereka setelah Sore sejak beberapa menit lalu mulai menulis menggunakan
laptop.
Gerimis tak kunjung reda. Haruskah
hujan menciumi Sore pada sore itu? Menunggu bisa menjadi hal buruk untuk siapa
saja, apalagi menunggu hujan yang tak tahu kapan hilang? Langit pun tak sedikit
pun memberi pesan akan segera mengusir awan. Sore pada sore itu ingin
memastikan menunggu adalah sebuah kesempatan. Jika hanya menunggu sambil sibuk melirik
jam, tentu Sore akan kesal.
Sejak tadi Sore terdiam pada sore
yang sepi, dingin dan basah. Sore ingin pulang tanpa diciumi hujan.
Baru
jam dua dinihari. Saya cek dulu handphone, wah twitter masih ramai gara-gara
kartu kuningnya ketua BEM UI—Zaadit Taqwa. Lak-laki berbatik merah dengan
perawakan gempal ini berdiri tak gentar di garda terdepan sembari mengacungkan
sebuah kartu kuning pada Presiden Jokowi layaknya wasit.
Ada apakah dengan Jokowi? Saya tidak
pernah benar-benar tahu sebenarnya bagaimana aslinya presiden negara Indonesia
tersebut? Yang diketaui ya dia seorang presiden yang katanya humble dan beprestasi semasa menjabat
walikota Solo.
Lalu faedahnya apa ngasih kartu
kuning buat Jokowi? Namun kartu tersebut bukan kartu sehat, kartu pintar, kartu
ATM, apalagi kartu kredit. Bisa saja itu kartu yang sudah dicoreti surat cinta
layaknya Dilan buat Milea—aku sayang kamu, aku tidak mau kamu lengser begitu
saja. Jadi kukartu kuning saja, biar Bapak hati-hati.
Dengan segala drama yang terjadi
selama rezim Jokowi—mungkin saja ini adalah puncak apresiasi dari Zaadit. Kalau
saya masih membubuhi kata ‘mungkin saja’ nggak boleh dong menghakimi rezim
Jokowi itu penuh drama.
Dunia ini semakin hari kok
semakin blur saja. Kepercayaan sudah terombang-ambing. Ingin bersikap netral
tapi selalu berat sebelah—hati mana yang tidak bisa berat? Namanya juga
manusia.
Kemarin saya bertanya pada salah
satu temanku, dia mahasiswa UI juga, begini tanyaku; “Kamu dukung
siapa nih?”
Dia,”Nggak. Hahahah. Aneh saja
katanya mau janjian ketemuan. Tapi kok presidennya dipermaluin gitu.”
Ah, mulutmu bilang enggak. Tapi
hatimu jelas berat ke siapa. Yasudahlah, saya simpan saja kata-kata itu dalam
hati.
Maryam
teman gue sejak SD tahun 2000-2006. Jadi rumahnya, termasuk kamarnya udah jadi
ruang cerita gue dengan dia.
Sekarang 2018. Kamarnya nggak
sesederhana dulu. 24 tahun, udah jadi cewek. Dulu masih ingusan. Pasti kamarnya
udah jadi cewek juga. Hehe
`seprainya
merah polkadot putih, ada hiasan tempelan gambar pot bunga di dinding, grey
warna dindingnya, selempang wisuda digantung di sudut. Maryam juga sering
terima hadiah-hadiah dari kenalannya. Maklum dia cantik jadi banyak yang suka.
Beda sama gue. :’D
Hadiah-hadiah itu kebanyakan boneka
dan bunga kertas. Dia pajang di rak dinding. Kalau malam kamarnya itu semriwing
ada lampu tumblr kerla-kerlip. Sengaja ketika mau tidur lampu kamar dipadamin,
biar selasa liat bintang dari kedipan lampu tumblr. Gue nulisnya benar nggak
sih? Tumblr atau tumblir?
Nggak boleh ada semut di kamarnya.
Dia nggak suka ada makanan manis tumpah, remah-remah juga dilarang. Biar nggak
ada semut bertamu. Kalau jodoh boleh. Hahah
Dia suka hal-hal simpel tapi berwarna.
Kamarnya udah nunjukin itu kok. Orangnya awet, nggak kayak gue—mudah lupa.
Sekian. Bingung mau nulis apa lagi.
Mau dua halaman, tapi kata-kata mentok sampai sini saja.