My Books

My Books
Araska Publisher, 2014. Ellunar, 2014, 2015, 2015.
I LOVE KAMPUS FIKSI - #KAMPUSFIKSI12

Cerpen - The Dark Shadow

Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Bonus Track’

The Dark Shadow
(Alfy Maghfira)

Awalnya aku tak pernah percaya apa itu karma. Tapi sejak dua tahun yang lalu, karma itu menjadi labirin di hidupku. Setumpah darah membuat hidupku ikut ternodai. Sebuah noda yang ditorehkan oleh bayangan gelap yang selalu setia mengekori ke mana pun kakiku melangkah.
          ‘Si omes Reza’–itulah julukanku. Sebuah dosa yang bahkan tak pernah kuperbuat. Namun dosa itu membuatku  sulit merajut sebuah cinta dengan kupu-kupu yang kuintai.
          Sial! Andai saja gadis itu tak pernah menanggalkan nyawa di atas pangkuanku, takkan pernah kuterbebani sebuah janji yang bahkan tak pernah kubuat untuknya. Terakhir kali teringat dari sisa suaranya yang terdengar kering ; berjanjilah, kamu tidak akan pernah lari dariku.
***
Saat siang terbunuh oleh gelap, aku sudah berdiri di depan cermin, mengamati setiap lekuk wajah yang tak memiliki cela sedikit pun. Kubelai rahang tegasku dan merutuk, perempuan mana yang enggak lumer sama kegantenganku? Tapi... gara-gara si setan kampret itu, sudah 10 kali tamparan mendarat di pipiku, erangku sembari mengertakkan gigi.
          Arloji digital yang melingkar di lengan kuamati. Jam 7 malam sudah menyapa, saatnya kutunaikan sebuah janji pada sang primadona yang sudah kuintai hampir seminggu belakangan ini.
          Ini malam minggu, tentunya sepanjang roda kemudi kukendalikan, kedua sudut bibirku terus membentuk lengkungan manis dan menawan, membayangkan Aya Lusiana menyambut pernyataan cinta dariku.
          “Selamat malam,” sapaku saat kulihat gadis itu menunggu dengan setia di depan rumah gaya minimalisnya. Ah, aku nyaris seperti orang gila, saat mataku bergerak liar menyusuri lekuk tubuh Aya yang terbalut terusan merah terjuntai hingga batas atas lutut.
          Pipi gadis itu matang, terpanggang oleh cumbuanku yang mendarat di punggung tangannya. Dia menyibakkan anak rambut yang sempat melambai menggelitik pipi. “Kamu tepat waktu,” katanya sembari menyampirkan tas tangan di bahu.
          “Yuk...” tanganku mendarat di punggungnya. Tapi....
          Plak!
          “Auw!!” Panas. Perih. Saat tangan yang kukira gemulai itu ternyata mendarat begitu keras di pipi kiriku.  “Kok, nampar , sih?!” kutengok gadis di sampingku. Mulutnya sudah mengerucut. Kali ini rona di pipinya tergurat amarah yang sudah meletup untukku.
          “Brengsek kamu! Dasar otak mesum!” Kali ini tas tangannya dibenturkan ke dadaku.
          Gadis itu bergegas pergi tanpa keanggunan yang sering kuintip ketika di kampus. Langkah yang lebar meninggalkanku dengan keheningan dan bintang yang terlihat menertawakan kesialanku.
          Tubuhku berbalik dan meruncingkan sepasang mata pada bayangan hitam yang perlahan samar menunjukkan wujudnya. “Cassie!!!” Suaraku terkerah kuat hingga beroktaf-oktaf lengkap dengan nyala mata yang sudah tersulut emosi yang memuncak.
          “Hahahahah! Udah aku bilangian, kamu gak akan pernah dapet cewek satu pun. Kamu udah janji sama aku,” selorohnya sembari tertawa—tertawa atas nasibku yang terlalu sering ditampar dan ditolak gadis incaran.
          “Kenapa sih kamu doyan banget gangguin hidup aku, hah?! Lagian aku gak pernah bikin janji sama kamu!!” tukasku lengkap dengan desahan napas.
          Setan itu berambut panjang, warna kulitnya seputih kapur, tubuhnya masih terbalut kaus putih gambar bulan—baju yang terakhir kali dikenakannya ketika rohnya terlepas dari jasadnya.
          “Heh, Reza kampret! Aku mati gara-gara nyelametin kamu ketabrak bajaj!” setan itu bernama Cassiopeia. Tepatnya Desember tahun lalu, dia mati terlindas bajaj.
          Sial! Kenapa bukan aku saja yang Tuhan renggut? Hidup tanpa sepasang hawa, terasa hidup di atas pandang tandus tak berkaktus. Sudah hampir dua tahun kulamar 10 wanita, dan yang kuterima hanyalah 10 tamparan yang memberi cap merah perih plus julukan menjijikan sebagai pria omes-otak mesum. Shit!
          “Aku enggak pernah minta kamu selametin aku, kok! Aku lebih milih mati ketimbang hidupku digangguin sama setan macem kamu. Bisa-bisa aku enggak kawin seumur hidup gara-gara kamu doyan colekin pantat cewek yang jadi inceranku!” Mataku hampir keluar menerjang gadis pucat yang berdiri melayang di depan mata.
          “Kamu udah janji, buat terus bersamaku, Za.”
          “Aku kasihan sama kamu waktu itu. Namanya juga orang yang lagi simpati. Jadi sekarang kamu pergi ke alammu. Dan, jangan pernah hantuiku lagi. Jujur... aku enggak pernah cinta sama kamu, Cassie,” pungkasku dengan wajah masih begitu tegap menatap gadis yang perlahan menunjukkan air kesedihan di wajahnya.
          Tubuhnya yang terlayang di udara perlahan turun dan mendarat di atas tanah dingin. Langkahnya terlihat gontai. Persetan! Aku tak bisa terus bersimpati padanya, kesabaranku mulai tandus.
          “Jadi... ini jawaban yang  kudapat? Selama hampir dua tahun aku nunggu kamu buat jawab jawaban cintaku dan, ini jawabannya?” Aku tak tahu ada setan matanya mengembun, dan kali ini bisa kulihat dia menahan luka.
          “Maafin aku, Cassie. Kamu harus terima perasaanku. Lagian dunia kita sudah berbeda, meskipun aku bilang cinta sama kamu tetep aja jalan kita sudah berbeda. Kamu harus segera pergi dan tidur panjang.  Dan, terimakasih banyak karena sudah mengorbankan nyawamu demi aku,” kataku sembari tertunduk dalam.
          Hening. Senyap. Hanya angin malam yang mendesir menjawab kalimat panjang lebarku. Kuangkat kepalaku. Gadis itu... Setan itu... Menghilang. “Maafin aku, Cassie...,” pungkasku sembari mendongak menatap bintang yang berkedip seolah dialah bintang itu.  [ ]
         














         
         
         
         


Share 'Cerpen - The Dark Shadow' On ...

Ditulis oleh: Alfy Maghfira - Selasa, 07 April 2015

Belum ada komentar untuk "Cerpen - The Dark Shadow"

Posting Komentar